Bikin Paspor Online? Caaapek, Deh!

Ketika memperpanjang paspor dan membuat paspor untuk kedua anak, saya tertarik melakukannya sendiri via online. Membaca banyak pengalaman orang di blog yang cukup positif, jadi semakin pede. Maklum, dulu saat bikin paspor pertama saya termasuk yang pilih jalan pintas dengan memakai jasa calo “orang dalam” karena butuh sangat cepat.

Ceritanya ingin jadi warga negara yang baik kali ini. Tapi ternyata di Indonesia, perjuangan menuju tercapainya niatan tersebut memang harus melalui jalan terjal berliku. *Lebay*.

Saya mencoba cara online karena banyak yang merekomendasikan dan menyebutkan bahwa cara tersebut lebih praktis, cepat, dan mudah. Bahkan memotong satu hari kunjungan ke kantor imigrasi. Saya memilih Kanim Jaksel agar dekat dengan rumah.

Well, ternyata memang pengalaman orang lain sama diri sendiri bisa berbeda jauh ya.

  1. Saya mengisi permohonan pembuatan paspor yakni formulir online dan mengattach file jpg semua dokumen yang diperlukan. Memilih tanggal kedatangan.
  2. Sebelum kedatangan saya menyiapkan dokumen asli dan fotokopiannya. Which is kalau dipikir-pikir bukankah sudah mengattach semuanya? Kenapa pakai fotokopian lagi seperti pembuatan paspor manual? Oke, ketidakefektifan nomor SATU.
  3. Saya menyiapkan diri kalau nanti harus membeli map di koperasi imigrasi tersebut. Okelah kalau ini memang demi ketertiban kan. Pengalaman orang lain, di beberapa kanim katanya tetap harus isi formulir. Which is kalau benar masih ada praktik semacam itu, buat apa juga isi form online? Ketidakefektifan nomor DUA. Untungnya di Kanim Jaksel tidak harus isi form baru. Cukup beli map.
  4. Saat datang di tanggal tersebut pukul 08.30 di Kanim Jaksel, disambut dengan pemandangan lautan manusia di ruangan yang cukup luas tersebut di lantai dua, dan dengan ucapan petugas penjaga mesin antrean: HABIS. Owalah, ternyata nomor untuk mendapatkan kesempatan maju ke loket sudah diantre orang sejak jam 06.00, bahkan ada yang mengaku dari jam 04.30, sehingga saya jelas-jelas seperti orang bodoh datang jam segitu. Plus kesempatan untuk pendaftaran online hanya 50 orang per hari. Lha, lalu apa gunanya memilih tanggal kedatangan saat mendaftar? Apalagi di bukti pra permohonan tertulis bahwa jika tidak datang pada tanggal tersebut pendaftaran dianggap hangus sehingga harus daftar ulang. Bukankah jika via online sudah memilih Kanim dan tanggal, semestinya hal itu bisa diatur kuotanya? Tanggal tidak boleh bisa dipilih jika memang kuota 50 itu di Kanim yang dipilih sudah terpenuhi dong. Ketidakefektifan nomor TIGA.
  5. Saya pun pulang dengan tangan kosong. Ibu saya menawari mewakili mengurus karena saya dan suami harus bekerja. Jadilah Ibu dengan perkasa datang lagi ke Imigrasi hanya untuk membeli Surat Kuasa. Setelah dibuat di rumah, keesokan harinya beliau datang lagi ke Kanim Jaksel, tapi memang sadar bahwa masih kesiangan yakni pukul 08.00. Antrean online sudah habis lagi tapi antrean manual yang jatahnya per hari 200 itu masih ada, ibu pun nekat mengambil tiga nomor dan mengambil formulir biasa. Jadilah mengulang pengisian.
  6. Nomor antrean yang didapat adalah 150an. Ibu saya sempat pergi lama untuk mengisi formulir dan makan. Saat kembali pukul 13.00, nomor yang dipanggil sudah 160. Setelah tanya ke petugas, nomor yang terlewat ternyata tidak akan dipanggil lagi nanti belakangan, melainkan langsung HANGUS. Oke, kalau ini kesalahan ada di pendaftar memang, tapi masa hangus sih? Bagaimana kalau yang mendaftar itu memang pergi saat mengantre karena keperluan yang benar-benar penting, misalnya? Well, yah, mengantre saja lagi besoknya, deh. Tapi catatan plusnya, berarti pelayanan cepat juga ya. Kata Ibu saya karena semua loketnya buka. Dulu saat ibu saya bikin paspor loket yang buka hanya 3 sehingga nomor 150an itu dipanggil baru pukul 15.00.
  7. Saya sih sudah kesal dan ingin pakai jalan pintas lagi. *Dasar*. Atau sempat terpikir membuat di daerah yang tidak terlalu ramai seperti misalnya Depok atau Jakarta Timur. Tapi Jaksel saja yang dekat sudah macet, apalagi kalau agak jauh. Ibu saya berbeda, dia menganggapnya tantangan. *Haiyaa!*. Jadi beliau bertekad datang ke sana lagi lebih pagi besok.

Jadi, bagaimana kelanjutan perjuangan pembuatan paspor ini? Kita tunggu ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s