being a wife

31 januari 2008

Hmm … bagaimana rasanya setelah menikah selama 38 hari? (1) Kayak punya teman kos abadi, (2) Anehnya malah lebih banyak keinginan untuk “menyendiri”–jalan2 sendiri, baca buku, ke salon (hehe)–mirip dengan zaman aku pertama kali kost ketika SMA dulu, (3) Pening-pusing-ketombe pra-nikah mulai menghilang–asal jangan diganti pening pasca-nikah aja deh!!, (4) Bobot naik dengan stabil–o-ow!, (5) Semakin malas olahraga–duh!

Nah, nah, memangnya semua ini ada hubungannya ya dengan perubahan .. eh .. penambahan status sebagai “istri”? Entah juga ya, tetapi memang ga mudah punya teman kos abadi, hehe pembagian tugas harus jelas tapi fleksibel, kesabaran harus ditingkatkan, ekspektasi terhadap pasangan tidak boleh terlalu tinggi–apa lagi yang tidak rasional, no, no!, gengsi harus ditekan demi komunikasi yang lancar, wah, kelihatannya kok susah ya? Yah, tapi sepertinya sih memang begitulah adanya, karena kalau tidak, sulit membedakan pernikahan dari sekadar pacaran.

Yang tidak terbayangkan, bagaimana menjalani semua ini sebulan lagi, setahun lagi, sepuluh atau bahkan dua puluh tahun lagi? Memang selalu ada hal baru dalam bentuk “masalah bersama”, tetapi, bagaimana ya andai muncul setitik kebosanan? Atau bahkan andai terjadi hilangnya kesabaran? Apa yang terjadi jika komunikasi terhambat dan karena “toh, abadi” membuat dua orang yang menikah malas memperbaiki diri atau memahami pasangan?

Kalau kau ternyata menemukan kekhawatiran yang sama, well, ingat2 aja, apakah kita dulu berpikir sejauh itu saat berusia 10, 15, 20 tahun? Hampir tak pernah kita bersusah payah berpikir apa yang akan terjadi di “dalam” diri kita, bukan? Selalu saja harapan dan kekhawatiran itu muncul saat kita berpikir mengenai apa yang terjadi di “luar” diri kita, mengenai apa yang akan kita alami. Sementara itu, tanpa sadar diri yang di dalam itu senantiasa menyesuaikan, beradaptasi, berkembang, bertumbuh, menjadi pribadi yang sekarang.

Pernahkah kita bosan pada diri sendiri? Mungkin pernah, tetapi kita selalu mencari cara untuk menyukai diri ini, berusaha selalu melihat kelebihan dan bersyukur atas apa yang kita miliki. Pernahkah kita hilang kesabaran terhadap diri sendiri? Mungkin ya, tetapi sering kali kita berusaha memaafkan diri atas kelalaian, dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya di kemudian hari. Semua itu terjadi asalkan kita selalu berusaha jujur pada diri sendiri, selalu membuka hati dan pikiran untuk belajar, senantiasa berpikir positif terhadap masa depan.

Nah, jadi siapa tahu kita juga tak perlu khawatir tentang masa depan bersama pasangan, teman kos abadi itu, asalkan kejujuran itu ada, diiringi hati dan pikiran yang terbuka untuk selalu belajar.

(Ya, ngga? ^_^)

 

Two most interesting comments are:

From my sister, Liza

ngomong2 jadi istri, dulu ga pernah terbayang, cita2 kan dulu baru merit umur 35. Sekarang… ga nyangka udah berjalan hampir 8 taon. Waw prestasi tuh, kalo celeb udah cere lagi kali. Setaon pertama… sering brantem, kan masih terusan dari pacaran. Abis itu punya anak, tetep masih suka brantem. Tapi kalo suruh balik lagi saat masih melajang, ga mau ah… skarang lebih wenak… hehehe… kan katanya live to the fullest hehe…
Jangan dipikirin lah. Tiga bulan juga blom. Kalo di kantor masa percobaan tuh biasanya 3 bulan, trus setelah 1 taon baru jd pegawai tetap hehe… so…

 

From my friend, Rika

kupikir-pikir pola relasiku sepertinya selalu berbau ‘dagang.’ Aku selalu menimbang apakah ‘pengorbanan’ yang kuberikan sepadan dengan ‘imbalan’ yang kudapatkan. Jadi sejauh ini aku bertahan dalam perkawinan karena hal-hal yang menyenangkan masih lebih banyak ketimbang yang tidak menyenangkan. Hahaha…entah nanti kalau berubah😛
Ternyata aku bukan pecinta yang baik ya..*ngeluyur pergi untuk merenung*

 

From my friend, Femmy

Ngomentarin paragraf pertama ah…

(1) Bener banget. Asyik ya?

(2) Soal kebersamaan. Setelah nikah, kami malah lebih produktif. Sebelum nikah dulu, rasanya waktu bareng sangat sedikit, jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengobrol dan melaksanakan kegiatan apa pun bareng-bareng. Setelah nikah dan memiliki “an eternity of tomorrows”, jadinya lebih santai. Di rumah bisa baca buku, mengerjakan sesuatu di komputer, dll, dsb. Ngga pernah lagi merasa kekurangan waktu.

(3) Yang namanya masalah sih selalu ada.

(4) Yang ini memang aneh. Terjadi padaku juga!

(5) Dulu dan sekarang aku malas olahraga, jadi ngga ada bedanya! :-p

Soal hidup berumah tangga, aku selalu berusaha mengingat nasihat Mas Haidar dulu (yang disampaikan pada acara internal milad Mizan). Never take anything for granted. Harga-menghargai antara suami-istri itu penting. Suami bekerja mencari nafkah, istri memasak makanan (duh, contohnya tradisional banget; ya pokoknya kegiatan apa pun deh), jangan pernah dianggap sebagai sekadar kewajiban dan dianggap biasa kalau itu dilakukan. Senyum dan ucapan terima kasih bisa membuat hubungan lebih dekat. Jangan sampai kita, misalnya, mengucapkan terima kasih kepada tetangga yang bagi-bagi kue atau makanan, tapi kalau sama istri sendiri mah biasa-biasa aja.

Yah… pokoknya petuah waktu itu sangat berkesan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s