Disiplin dan Calon Pemimpin

18 Juni 2010

Kata Ayah Edy (penulis buku I Love You, Ayah Bunda, Hikmah 2009), anak yang sedari kecil sulit diatur sebenarnya punya jiwa kepemimpinan yang tinggi. Dia selalu ingin memutuskan sendiri apa yang akan dilakukannya. Semacam itulah.

Hmm … mungkin Rafaku yang baru 1,3 tahun pada Juni 2010 ini, punya bakat itu. Bisa dibilang sedari kecil (emangnya skr sudah sebesar apa yak? hihi), eh lebih tepatnya, sedari dalam kandungan (walah!) dia memang sulit diatur. Mulai dari urusan memutar posisi (baru kepala di bawah pada 7 bulanan–deadline!!), sampai momen kelahiran yang ogah dipaksa (40 minggu–deadline!, induksi 3 hari nggak ngefek, detak jantung tetap kuat, tetapi ogah tengkurep, ogah turun ke jalan lahir). Sekarang pun bakatnya semakin jelas. Dalam hal tengkurap, merangkak, jalan … semua jelang deadline dan gamau disuruh. Yang ada, dia yang nyuruh kita heheheh.

Okelah kalau persoalan perkembangan motorik, memang semua ada waktunya. Taapiiii, masalah sifat kerasnya itu ada di semua tindakannya. Kalau sudah minta sesuatu woow, bisa jerit-jerit kalau ga dituruti. Kadang bisa sih dialihkan, tapi kalau sudah nekat dan tetap dilarang, ya terpaksa dibiarkan menangis. Mulai hal sepele semacam membanting barang, makan pada tempatnya, minta makanan orang lain, pegang sakelar listrik, dll dll … Nah, sebagai mamanya, bingung banget buat mengajarinya “disiplin”. Hmm, soalnya orangtuanya juga kali ya ga disiplin. Tapi pada beberapa kasus memang membingungkan.

Misalnya, Rafa pukul Ayah (Mama ketawa, hihi pembalasan dendam), Rafa pukul Mama (Ayah ketawa, wakaka sukurin!), Rafa pukul orang lain (Oma, anak tetangga, dll … Mama dan Ayah khawatir dan bilang “nggak boleeeh”).

Ada juga, Rafa minta makanan orang lain, awalnya ga boleh, lama-lama ga tahan konsisten juga karena seeeetiiiaaaap apa yang siapa pun di dekat dia makan/minum, dia minta, dan kalo ga dikasi welaaaaah teruss teruuss deket deket curi curi, pokoknya segala cara sampai yang gamau ngasi kalah.

Lalu, Rafa banting bola (semua ikut banting bola giliran), Rafa banting bantal (semua ketawa), Rafa banting sendok (yaaa okelah), Rafa banting hp Ayah (Mama ketawa), Rafa banting hp Mama (Mama marah hoho), Rafa banting kamera (Ayah marah), Rafa banting botol sampe pecah (Mama kesal) .. nah loh ini juga ga konsisten ya? hiks hiks

Makan pada tempatnya (high chair), awalnya dibiasakan, eh lama-lama absen, absen, sampai sekarang akhirnya nggak pernah lagi.

Awalnya ga boleh diajak jalan-jalan, pelan-pelan ke teras lalu ke gang, lalu ke mana-mana. Tapi kalau lagi berada di mall, makan memang sambil di kereta (jalan) … Hmm … akhirnya sekarang makan di lantai aja sambil keliling. Wah, lagi-lagi ga konsisten …

Terakhir, Rafa gamau turun dari mainan di hypermart, Oma dan Ayah langsung sepakat membelikannya. Padahal harga ga murah boo … Mama sebenarnya ragu tapi kalah suara … halah, apakah permintaan dia semua harus dituruti? Sejauh mana toleransinya? Bagaimana disiplin tapi tetap bisa bersenang-senang? Apakah orangtuanya juga kudu superdisiplin? Haduh, biiingung deeeh … Apa tindakan-tindakan di atas sudah bisa dikategorikan memanjakan anak? Duh. Yang jelas, dia senang sih ada mainan baru yang bisa dinaikin. Hehehe

kalahujan
kalahujan menulis on Jun 30, ’10
penulisnya barbara coloroso shin🙂

soehind
soehind menulis on Jun 29, ’10
ayo mbaaa apa judulnya, eh penulisnya aja deh mbaa …

kalahujan
kalahujan menulis on Jun 27, ’10
waa shinta…aku mau ngasih rekomendasi buku parenting yang bagus banget..aku baca karena nerjemahin sih..hihihi..Mau kutulis di sini judulnya tapi takut dikira promosi *celingak-celinguk*. Nerjemahinnya udah lama tapi ga tau kok sampai sekarang aku belum dapat bukunya ya? *bingung*

hpmelati
hpmelati menulis on Jun 27, ’10
kalo masih bayi mah pasti masih terlihat cool calm n confident.. ga tau deh gedenya…

soehind
soehind menulis on Jun 25, ’10
kyaaaaaaa .. ati uhuuy deh … betul ti … tp kaenya malika anak yg maniiiis n penurut deeeh … (kedip kedip)

hpmelati
hpmelati menulis on Jun 20, ’10
gue lupa baca di mana, supernanny atau nanny 911.. di situ dibilang, bahwa anak memutuskan sendiri itu bukan berarti dia bisa semaunya… intinya bukan ngedikte tp juga bukan membiarkan begitu saja. taktiknya? buat pilihan atau bargaining position, sehingga si anak bisa merasa telah mengambil keputusannya sendiri. boleh aja ngasih apa yang dia mau, tapi dia harus usaha utk mendapatkannya-nangis2 bukan berarti usaha loh ya.. soal perilaku terhadap orang lain terutama pada mama papanya, harus dibiasain tuw ga ngetawain pasangan. nanti dia kan belajar menghargai orangtua (dan orang lain) dari perilaku orangtuanya. kalo terus begitu nanti si anak akan belajar bahwa dia bisa membuat mamanya senang dengan berbuat jahat pada ayahnya atau sebaliknya. (again talk is easy, gue blum sampe sana pengalamannya baru sebatas teori…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s