My First Clodi (1)

16 Feb 2012

Punya anak kedua dengan warisan yang minim dari si kakak (anak pertama) mengandung arti aku harus belanja lagi. Hehehe udah pede aja sih ga akan punya hamil lagi dalam waktu dekat, jadi semua barang daripada tersimpan tak berguna sudah dijual atau diberikan. Dan, ternyata barang-barang bayi yang kita jaga dan rawat baik masih punya nilai pakai yang sangat tinggi lho, apalagi kalau belinya memang yang berkualitas. Pompa susu dan cooler bag misalnya, asal masih simpan kemasan dan petunjuknya, bisa menjadi benda yang sangat berguna bagi ibu lainnya.

Tapi, yah namanya emak-emak hobi belanja, keadaan ini malah sebenarnya disyukuri karena jadi bisa nyoba banyak hal baru. Dan perkembangan dunia perbayian ini kan dahsyat. Bentar-bentar udah ada produk baru yang menarik, yang makin membuat perawatan bayi menjadi praktis.

Beberapa tetap pakai produk/merek lama yang sudah cocok saat Rafa lahir dulu. Beberapa adalah pemuasan rasa penasaran emaknya terhadap produk-produk yang dulu belum ada atau belum pernah dicobain. Hehehehe, dan kayaknya persentasenya banyakan yang kedua deh.

Salah satunya adalah cloth diaper. Dulu saat Rafa lahir aku memang meniatkan popok kain di dua sampai tiga bulan pertama. Bentuknya hanya popok tali tentu, yang sehari bisa ganti belasan kali berikut bedong dan alas ompolnya (kadang juga berikut bajunya!). Tapi terkadang tetap dicombine dengan pemakaian pospak saat bepergian atau saat tidur malam atau saat darurat popok habis (baca: belum kering). Dulu belum zaman clodi di Indonesia. Di luar negeri sih mungkin sudah ada. Tapi di pertengahan 2009 memang mulai bermunculan merek lokal, tapi belum terlalu menarik perhatian.

Nah pada 2011, hanya dalam waktu dua tahun saja, sudah begitu banyak perubahan. Clodi lokal sudah berinovasi sendiri dan dengan harga terjangkau punya tampilan yang ga kalah menarik dengan clodi impor. Mereknya pun sudah ada banyak pilihan. Jenisnya juga. Jadi semakin yakin untuk mencobanya. Katanya sih kalau pakai produk lokal, selain memajukan ekonomi negeri sendiri, juga lebih “green” dan lebih hemat. Meskipun andai tak terhalang soal harga, produk impor itu emang bikin ngiler hehehehe.

Baca review clodi di mana-mana memang membuat malah tambah pusing, hehehe tapi akhirnya keputusan coba jatuh di  tiga merek, GG, cluebebe, dan enphilia. Ketiganya ngeluarin produk buat newborn (meski aku kayaknya yakin anakku di atas 3 kg neh beratnya hohohoho). Lil’G dan cluebebe coveria petite dengan sistem diaper cover berbahan PUL, enphilia mini dengan sistem cover berbahan suede. Niatnya masing-masing nyoba 2 aja dulu, selebihnya tetap pake popok tali kayak dulu. Soalnya kekhawatiran utamaku dengan clodi adalah keribetan pemakaian dan perawatannya. Banyak banget aturannya hehehe. Kalau kena softener bisa repellent lah, kalau sudah repellent kudu distripping lah, belum lagi teknik padu padan insert agar tidak bocor misalnya. Hehehe tapi kita ga akan tahu sebelum kita nyoba sendiri kan? Jadi siapa tahu cocok. Pospak tetep nyetok satu bungkus besar yang newborn buat jaga-jaga.

Yang bikin penasaran juga adalah popok sistem prefold, hehe yang dikaitkan dengan peniti besar atau snappi juga bisa. Nah akhirnya—lagi-lagi biar ga penasaran dalam membandingkan fungsi—nyediain juga 2 buah cilipopo prefold plus penitinya.

Sekarang siap nyoba deeh …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s