Self Weaning Rafa

Kesempatan kedua ke LN jatuh ke Kuala Lumpur, Malaysia, 21-24 Maret 2010. Sebenarnya tidak terlalu excited, soalnya harus meninggalkan anak selama 4 hari 3 malam. Tapi tugas kali ini tidak bisa dialihkan hiks hiks meskipun sudah berusaha hehe. Jadi dipandang sisi positifnya aja deh bisa jalan-jalan ke LN lagi.

KL mirip Jakarta. Hujan dan panas terik silih berganti. Bedanya hanya di KL tidak ada kemacetan parah seperti Jakarta dan jalan-jalannya relatif lengang dan bagus. Kabarnya tingkat kecelakaan lalu lintas di KL sangat tinggi. Mungkin karena para pengendara mobil (motor jaraaaang banget) relatif suka mengebut di sana. Gedung-gedung tingginya tak jauh beda, tetapi di KL ada sistem transportasi umum yang murah dan bagus. Dari bus sampai monorel, tinggal pilih. Taksi jadi pilihan terakhir di sana karena mahalnya. Bayangkan saja, tarif buka pintu mencapai RM3 (sekitar Rp 9000) sementara tiket monorel hanya berkisar antara RM1  sampai RM2. Jadwal kereta atau busnya pun cepat, datang sekitar 5 menit sekali. Tetapi jangan segan untuk berjalan agak jauh menuju stasiun terdekat.

Tujuan utama ke KL adalah pameran buku. Tak jauh beda dengan Pesta Buku Jakarta setiap Juli sebenarnya, hanya mungkin gedungnya lebih bagus dan AC-nya lebih dingin, hehe. Tipe pengunjung pameran pun mirip dengan di sini, hanya menenteng tas kresek berisi 2—5 judul buku. Lain sekali dengan di pameran buku internasional Thailand yang sebagian besar menenteng tas beroda untuk membeli buku dalam jumlah banyak.

Agenda pekerjaan full bahkan sampai di hari terakhir, alhasil tak bisa jalan-jalan ke mana pun hehehe. Hanya menyambangi dua mal, salah satunya KLCC yang terletak di bawah Petronas Twin Tower. Oleh-oleh pun hampir tak ada, selain budget minim, bagasi tak memungkinkan. Satu koper penuh buku, satu tas penuh baju, satu tas kresek berisi hal-hal yang tak bisa masuk di keduanya hehe. Belum ditambah tas tangan. Wah lengkap deh. Akhirnya ke bandara saat pulang pun terpaksa menggunakan taksi yang muahalnya pol, mencapai RM90 sekali jalan.

Sedihnya sesampai di Jakarta, Rafa yang mau jalan 13 bulan, menolak menyusu langsung! Wah. Padahal selama di KL ga lupa sama sekali buat selalu perah ASI buat dibawa pulang, lho. Hiks. Juga sudah menyiapkan segala keperluan buat membawa ASIP on board. Ternyata ini yang namanya self-weaning. Akhirnya setelah coba berbagai cara dan konsultasi ke berbagai klinik laktasi tapi tetap tak ada hasil, aku jadi exclusive pumping mum. Maksudnya Rafa hanya minum ASIP, tanpa menyusu langsung. Bertahan 3 bulan saja. Hiks. Jadi agak menyesal nih pergi ke KL. Tapi yaaah ga bisa diulang toh, jadi ya sudah bersyukur saja karena weaningnya sudah lewat angka satu tahun minum ASI, deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s