Pede Bicara Seks pada Anak dan Remaja (Sharing Tetralogi Seminar Supermoms Sesi 4)

Seminar dengan topik yang sangat menarik ini diisi oleh Bu Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati. Beliau sudah terkenal sebagai pakar psikologi yang sangat peduli terhadap persoalan pornografi.

Dalam seminar yang dihadiri hampir 200 peserta ini beliau berbagi beberapa kecemasan dan menularkan kewaspadaan kepada para orangtua yang hadir. Betapa tidak, kecanduan pornografi bisa merusak otak anak, lebih parah daripada narkoba. Namun, seringkali orangtua masih malu bicara soal seks dan seksualitas kepada anak sendiri.

Secara memiliki dua anak laki-laki, aku benar-benar khawatir mengenai bagaimana perkembangan mereka kelak, bagaimana supaya mereka tidak terjebak pada pergaulan yang keliru. Well, dari seminar setengah hari ini, berikut adalah beberapa highlightsnya:

1/ Fakta bahwa semakin maraknya kasus-kasus asusila yang dilakukan terhadap maupun oleh anak kecil, membuat kita tak boleh lagi merasa aman tenteram. Kewaspadaan harus ditingkatkan, pengetahuan harus ditambah, komunikasi dengan anak harus diperlancar.

2/ Kita harus bisa menjadi askable parents. Yakni tempat anak bisa nanya apa pun juga, termasuk persoalan seks ini. Setiap kali anak bertanya, sebenarnya itulah kesempatan emas atau golden opportunity kita untuk menjelaskan kepada mereka hal yang benar dan sesuai dengan cara pandang kita. Jangan sampai pada pertanyaan tertentu kita malah mencecar atau bahkan menuduh anak, menginterogasinya, sehingga mereka akhirnya bertekad tak akan lagi mau bertanya pada kita.

3/ Kunci untuk menjawab dengan benar harus dilatih, yaitu: *ini singkatan versi saya sendiri, sih* SPJ (SANTAI, PERIKSA, JAWAB). Intinya kita harus rileks, tenang, tarik napas, kalau anak kita ujug2 mengajukan pertanyaan ajaib. saat berusha rileks itu kita bisa mulai putar otak. Setelahnya kita harus periksa, yakni memeriksa pemahaman anak dengan kalimat “Yang kamu tahu apa?” Kalimat ini memang spesifik sekali karena berfungsi menanyakan pada anak tentang apa yang dia ketahui tentang hal yang dia tanyakan. Setelah dia menjawab, kita harus berpikir cepat dan memutuskan jawabannya dengan *lagi2 ini buatan saya singkatannya hehehe*: TPA (TEPAT, PENDEK, AGAMA). Maksudnya jawaban harus tepat persis seperti inti dari pertanyaan anak. Lalu harus pendek dan sederhana, jangan berbelit-belit. Terakhir, kunci dengan agama. Yaitu selalu kaitkan jawaban itu dengan misalnya ketentuan Tuhan, yang disukai Tuhan, dan semacamnya.

4/ Saat anak setidaknya berusia 8 tahun atau meski sebelum usia itu tapi sudah menunjukkan tanda-tanda baligh atau tanda-tanda mulai mengetahui atau ingin tahu soal seks dan seksualitas, saat itulah orangtua harus menjelaskan tentang alat reproduksi dan fungsi-fungsinya, dan tentang apa yang akan dia lalui saat dia akil baligh. Penjelasan melalui buah-buahan dan benar-benar ditunjukkan untuk anak cowok seperti ini madzi (dengan lem uhu), seperti ini mani (dengan tepung sagu dicairkan), tentang mimpi basah juga. Untuk anak cewek ibunya yang harus menjelaskan tentang bagaimana proses menstruasi, sampai pada cara mencuci pembalut. Wow.

5/ Sejak balita gunakan “alam” sebagai proses dia mengetahui tentang seks dan seksualitas. Misalnya dia lihat kucing kawin, putar badannya membelakangi lalu jelaskan bahwa kawin adalah kodrat Tuhan, semua makhluk hidup melakukannya. Tapi manusia tidak seperti hewan, semua ada aturannya. Semacam itu. Termasuk saat menengok bayi yang baru lahir. Jelaskan sesuai usianya. Gunakan cara bercerita atau mendongeng.

6/ Buat tabel perencanaan. Tetapkan tujuan kita menjadi orangtua, tujuan pendidikan anak dari bulan ke bulan. Misalnya harus bicara/menjelaskan apa kepada siapa dan oleh siapa. Semua sesuai usia. Misalnya anak beda 2-3 tahun tidak boleh main didudukkan sama-sama untuk mendengarkan penjelasan yang sama karena fase mereka berbeda. Harus spesial dan satu per satu.

7/ Begitu ada indikasi mencurigakan misal anak mengatakan sesuatu yang membuat kita kaget, langsung tanggapi dengan serius (tapi tidak panik ya) dan ambil tindakan secepatnya. Misalnya ada seorang ibu yang bertanya, anaknya cowok 3,5 tahun bertanya tiba-tiba, “Mama mau nggak makan p*nisku dan minum pip*sku?” Bu Elly menyarankan segera dikonfirmasi dengan santai, maksud anaknya apa? Lihat di mana? Dan sejenisnya. Lalu karena orang baru dalam rumah itu adalah seorang ART yang masih remaja 19 tahun, Bu Elly langsung menyarankan memeriksa handphonenya tanpa sepengetahuannya. Bukannya suudzon, tapi sudah banyak kasus serupa, sehingga lebih baik bertindak daripada terlambat.

Setelah pulang dari seminar, agak overwhelmed aku jadinya. Apalagi dengar langsung bahwa ada kasus pencabulan guru ke murid di sebuah sekolah internasional. Haduh, betapa ngerinya. Semoga anak-anak kita dijauhkan dari hal-hal semacam ini. Dan tentunya, kita harus berusaha semaksimal mungkin mengarahkan mereka agar tak pernah lupa pada yang sudah diperintahkan Tuhan, “tahanlah pandanganmu dan jagalah kemaluanmu.” Pendidikan agama dan komunikasi intensif antara anak dan orangtua menjadi dua hal utama dalam mencegah meluasnya dampak pornografi.

Yuk sama-sama berusaha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s