Kecewa dengan Ramah Furniture

Ceritanya tahun lalu, sebelum anak kedua lahir, aku dan suami berencana membuat lemari pakaian built in. Maklum, rumah kecil idealnya furnitur serba built in supaya bisa menjangkau langit-langit demi ruang simpan yang luas. Maka mulailah ke sana kemari bertanya dan melihat contoh furnitur. Sampai di ITC BSD ada satu yang menarik perhatian. Showroomnya cukup luas di lantai itu dan hasil karya yang dipajangnya lumayan bagus. Tambah minat waktu dengar harganya yang pas banget sama budget.

Bagian marketingnya seramah nama perusahaannya. Begitu pula bagian produksi yang survey ke rumah. Desain 3D pun dikirim tepat waktu via email. Canggih deh. Permintaan kami sederhana saja, pokoknya panjang dan lebar pas, model yang sudah pernah dia buat, plus finishing pilih yang termurah: melamic. Warna yang dipilih hijau, karena berpadu dengan serat kayu kalau melamic (karena fungsinya hanya mirip pelitur), jadinya unik.

Mulailah menunggu dan menunggu dan menunggu hasil. DP murah saja. Hasil molor 2 mingguan. Begitu didesak-desak, akhirnya dikirim juga tim pemasang. Saat lembaran-lembaran siap pasang itu sampai, kagetlah aku. Warnanya kok jadi hijau polos (tanpa serat kayu) dan jenis hijaunya beda banget sama yang di contoh kayu waktu itu. Wah, memang ya, kalau bikin sesuatu yang built in pasti deg2an karena ngeri ga sesuai. Kalau sudah sampai diantar ya mau bilang apa? Mungkin memang saat pengerjaan konsumen harus juga mengecek ke lokasi workshop. Supaya kalau ada sesuatu yang keliru bisa tahu di depan.
Yah, akhirnya aku kontak sang bagian produksi yang tak ikut mengantar itu. Protes. Kesalahan ada pada order kelihatannya. Kalau keukeuh diubah: ga jamin lebih bagus, lebih lama, kudu nambah biaya transport (WHAT?). Kalau pasrah menerima: warna jauh dari bayangan tapi dapat diskon malahan karena salah finishing. Ditimbang-timbang, akhirnya pilih opsi kedua yang tampak tidak egois dan menguntungkan.
Hasilnya: pengukuran cukup presisi. Gak ada yang mencong atau apa. Dan .. dan sudah, kayaknya itu aja deh kelebihannya. Soalnya kelemahannya lebih banyak, yakni desain tidak sesuai pesanan. Karena ada satu pintu yang kuminta geser di bagian atas, tapi malah dibikin biasa ukurannya. Jadinya dipasang ala pintu geser ya kurang panjang kan sebelah daun pintunya. Uh sebel deh. Udah gitu, bau catnya bukan main dahsyat. Membuat mata perih dan pernapasan terganggu. Sampai sekitar 2 bulan aku dan suami pindah tidur di ruang tamu supaya gak keracunan bau cat. Dikasi kopi, arang, dan lain sebagainya agar menyerap bau, tak terlalu berhasil tapi tetap dilakukan. Daripada ga diapa2in gitu.
Setelah bisa tidur di dalam kamar lagi, masih nelangsa menatap hijaunya si lemari itu. Nuansa kamar jadi ikut sehijau dirinya. Nah tak berapa lama, terdengar suara krik krik kalau sedang sujud saat shalat. Ternyata ada rayap kayu di dalam lemari. Entah masuk saat musim laron, ataukah terbawa telur rayap saat di pabriknya? Hiiiiy. Bergidik ga siiiy. Sebalnya bertambah-tambah deh. Lalu mulai ada bukti bubuk kayu yang menumpuk di dekat lubang-lubang di sepenjuru lemari. Dari bawah sampai atas. Dengan putus asa kubasmi menggunakan obat nyamuk semprot. Letakkan pas di lubang yang ditemukan. Semproooot banyak. Eh ternyata kayaknya lumayan berhasil. Soalnya sekali dua kali kutemukan rayap mabok di luar lubang itu. *Kejam*.
Nah, jadi baru sekarang, setelah lewat setahun dan sudah sangat terbiasa melihat si lemari hijau itu di kamar, aku bisa menuliskan kembali kekecewaan yang kualami dulu. Setidaknya buat bahan pelajaran, bahwa mungkin lebih baik memilih perusahaan bernama Bagus Furniture ketimbang sekadar Ramah Furniture. Hehehe. Nggak ding, pelajarannya adalah, sebagus apa pun kelihatannya barang di showroom furniture, kalau namanya built in, pengawasan kita sebagai konsumen harus tetap full. Datangi workshopnya, cek detail-detail pesanannya, ingatkan mereka terus. Plus tanya, apakah nanti catnya akan berbau? Apakah ada antirayapnya? Ada garansi kalau tidak sesuai pesanan uang kembali gak? Begitulah.
Sekarang sedang mengkhayal bikin kitchen set, tapi masih ngeri. Sekelas Metric Kitchen jelas gak mampu, tapi kalau sesuai budget, ketar-ketir hasilnya jelek. Hehehe, serbasalah jadinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s