Apakah Anakku Sudah Siap Sekolah?

4 Tahun! Sepertinya ini merupakan salah satu milestone umur yang spesial. Di usia ini orangtua harus memutuskan apakah anak siap bersekolah atau belum. Seperti apa sekolah yang cocok baginya? Apakah homeschooling lebih baik? Segenap pertanyaan itu juga sempat menyerangku. Akhirnya aku dan suami memutuskan untuk survei sekolah dan mencatat reaksi Rafa.

Kriteria sekolah yang kami sepakati:

1)     Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Jika naik kendaraan umum tidak sampai 30 menit lamanya.

2)     Tidak menugaskan PR pada anak TK

3)     Cara mengajarnya menyenangkan

4)     Tempatnya luas dan ada ruangan terbuka untuk bermain di luar

5)     Tidak memaksakan baca tulis hitung pada anak TK. Sekadar pengenalan huruf dan angka tidak apa-apa.

6)     Sesuai budget.

7)     Rafa tampak senang saat survei.

Kelihatannya mudah sekali. Tapi ternyata reaksi anak usia 4 tahun tak bisa ditebak. Sebelumnya kami sudah mempertimbangkan homeschooling namun tampaknya kurang realistis mengingat aku dan suami bekerja. Lalu, kami juga sepakat jika belum ada yang sesuai harapan atau jika reaksi Rafa sangat keras menolak, kemungkinan kami akan menunda satu tahun lagi.

Bagaimana pun juga di sebuah seminar aku pernah mendengar bahwa usia ideal anak bersekolah sebenarnya adalah saat dia sendiri yang meminta. Sementara dengan Rafa, setiap kali di-sounding dengan istilah sekolah dia selalu menjawab “tidak mau”. Namun, di sisi lain, kami melihat kegiatan Rafa sehari-hari yang sepertinya monoton dan kurang memberi dia stimulus. Kami juga melihat bahwa dengan anak tetangga yang sebaya, Rafa sudah mulai senang bermain bersama. Bahkan seringkali punya keinginan untuk main ke rumahnya, atau ingin ikut keluar saat melihatnya main di luar, dan semacamnya.

Akhirnya kami mensurvei 6 sekolah yang tampak potensial. TK Marinir Cilandak (pilihan Rafa karena di depan jalannya ada tank), TK Citra Alam Ciganjur, TK Sekolah Alam Indonesia, TK Smart School, TK Al Azhar Syuhada, dan TK Early Step. Semuanya berlokasi di daerah dekat Jagakarsa, Jakarta Selatan. TK Marinir adalah yang paling konvensional. Namun keberatan kami ada dua, yakni jarak yang tak terlalu jauh itu ternyata makan waktu tempuh hampir 1 jam di pagi hari karena melalui arus macet, lalu pelajaran agama yang kebetulan saat survei kami intip juga agak keras. TK Early Step mengusung metode montessori yang menarik dan tidak berbasis agama tertentu. Al Azhar Syuhada bagus namun kualitas ruang kelas dan mainannya tampak agak menyedihkan. Smart School dan Sekolah Alam Indonesia sangat mengundang selera, namun sudah fully booked. Tampaknya yang dua ini sekolah favorit. Yang paling menggiurkan pada akhirnya adalah TK Citra Alam. Lokasinya, metode pengajarannya, dan ternyata meski Rafa tetap bersikeras ingin bersekolah di TK Marinir, hanya di Citra Alamlah kami lihat dia mau bicara pada guru. Di semua sekolah lain setiap kali kami bertanya ini itu dan mengobrol dengan guru, Rafa sama sekali tidak mau bertanya atau menjawab langsung. Gayanya malu-malu. Sementara di Citra Alam dia mendadak berani bercanda dengan sang kepala sekolah, Yanda Imron. Apa mungkin juga karena di tempat lain guru yang kami temui selalu perempuan, ya?

Akhirnya setelah periode galau dan diskusi, kami sepakat untuk mencoba Citra Alam. Semata-mata based on reaksi Rafa di sana, tentu juga karena ia memenuhi semua kriteria tadi. Kami pun meyakinkan Rafa dengan berbagai cara. Membujuk, mengutarakan alasan rasional, merayu, hehehe. Akhirnya kami juga beberapa kali mendatangi sekolah tersebut dan menyampaikan beragam imajinasi menyenangkan tentang sekolah. Saat akhirnya Rafa berkata, “ya” dan mau mencobanya, aku lega sekali.

Image

Sekarang sudah bulan keempat Rafa bersekolah dan alhamdulillah “hanya” butuh waktu 1 hari menunggu di dalam kelas, 1 hari di luar kelas, 1 minggu di saung sekolah (15 meter dari kelas), dan 1 minggu ditunggui omanya di saung tersebut. Terkadang dia malas sekolah dan ada hari-hari penuh perjuangan membujuknya sekolah, namun relatif tanpa tangis heboh dan teriakan. Salah satunya karena kegiatan sekolahnya selalu beragam dari hari ke hari sehingga dia terus penasaran. Mengingat sifat Rafa yang sensitif, hal sederhana ini sudah sangat melegakan. Mudah-mudahan dia terus semangat bersekolah.🙂 Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s